Rekonstruksi Praktik Penyimpangan Cultuurstelsel Terhadap Dampak Kelaparan di Wilayah Demak pada Tahun 1849
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyimpangan sistem Cultuurstelsel di Demak pada tahun 1849 yang menyebabkan bencana kelaparan akibat eksploitasi oleh pejabat pribumi. Kebijakan Culturprocenten yang diperkenalkan oleh Bosch memberikan insentif ekonomi kepada elite lokal untuk memenuhi target ekspor pemerintah kolonial Belanda. Skema ini mendorong terjadinya pemaksaan terhadap petani untuk menanam komoditas ekspor di bawah tekanan kerja paksa dan beban pajak tinggi, yang memperparah penderitaan rakyat. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori moral ekonomi James C. Scott dan teori kemiskinan struktural untuk menjelaskan relasi kuasa yang terbentuk antara elite lokal, pemerintah kolonial, dan petani. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif historis melalui analisis arsip kolonial, dokumen administratif, dan sumber sejarah primer lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya pelanggaran terhadap "batas kelayakan" hidup petani merupakan akibat langsung dari kebijakan kolonial yang menciptakan ketimpangan struktural. Elite lokal secara sistematis mengorbankan kesejahteraan petani demi memenuhi tuntutan kekuasaan kolonial. Penelitian ini tidak hanya merekonstruksi dinamika kekuasaan eksploitatif masa kolonial, tetapi juga mengungkap relevansinya terhadap persoalan ketimpangan dan ketidakadilan agraria di Indonesia masa kini
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Algemeen Rijksarchief te Den Haag. (1849). Laporan inspektur tanaman (No. 28). Den Haag, Belanda: Algemeen Rijksarchief te Den Haag.
Aman. (2014). Dari kolonialisme sampai nasionalisme. Yogyakarta, Indonesia: Pujangga Press.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). (1835–1859). Bevolkingstaat in de Residentie Semarang [Arsip tekstual Residen Semarang]. Jakarta, Indonesia: Arsip Nasional Republik Indonesia.
Bergsma, W. B. (1881). Conversie van comunal in erfelijk individueel bezit of Midden-Java getoetst aan het Inlandsche grondrecht. Leiden, Belanda: Universiteitsbibliotheek Leiden.
Bleeker, P. (1850). Fragmenten eener reis over Java. Batavia, Hindia Belanda: Landsdrukkerij.
Breman, J. (2014). Keuntungan kolonial dari kerja paksa: Sistem Priangan dari tanam paksa kopi di Jawa. Jakarta, Indonesia: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Djoenod, M. (2010). Sejarah nasional Indonesia jilid 4: Kemunculan penjajah di Indonesia. Jakarta, Indonesia: Balai Pustaka Persero.
Nieuwsblad van het Noorden. (1972, 21 Januari). Hongersnood bedreigt slachtoffers overstroming. Nieuwsblad van het Noorden, Artikel 198. Diakses melalui Delpher: https://www.delpher.nl
Rheviany, A., Rahmawati, D., & Putra, R. (2023). Dampak secara ekonomi akibat Perang Diponegoro bagi Belanda. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 10(6), 2984–2985.
Sartono, K., & Suryo, D. (1991). Sejarah perkebunan di Indonesia: Kajian sosial ekonomi. Yogyakarta, Indonesia: Aditya Media.
Scott, J. C. (1983). Moral ekonomi petani: Pergolakan dan subsistensi di Asia Tenggara (Terj.). Jakarta, Indonesia: Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).
Soes Van, A. (1869). Geschiedenis van het kultuurstelsel. Rotterdam, Belanda: H. Nijgh.
Supriyono, A. (1987). Krisis subsistensi di Karesidenan Semarang: Kasus kelaparan di Afdeling Demak dan Grobogan tahun 1849/50. Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia.